PASER – Dengan dukungan pemerintah pusat dan berbagai pemangku kepentingan, Kabupaten Paser terus bertransformasi menjadi lumbung pangan strategis nasional. Dimana diproyeksikan mampu menopang kebutuhan dua provinsi sekaligus, yakni Kalimantan Timur (Kaltim) dan Kalimantan Selatan (Kalsel).
Wakil Bupati Paser, Ikhwan Antasari, mengatakan bahwa upaya menjadikan Paser sebagai lumbung pangan tidak hanya bertumpu pada satu komoditas, melainkan diarahkan pada penguatan kedaulatan pangan secara menyeluruh.
“Paser tidak hanya bicara soal produksi telur. Saat ini kami sudah surplus beras dan siap memasok kebutuhan daerah tetangga seperti Penajam Paser Utara (PPU) dan Balikpapan,” kata Ikhwan, Senin (2/2/2026).

Selain sektor pertanian, Kabupaten Paser juga menunjukkan kemajuan signifikan di sektor industri pengolahan. Produksi minyak kelapa sawit mentah (Crude Palm Oil/CPO) kini telah dilakukan secara mandiri. Hal ini dinilai menjadi lompatan besar dalam meningkatkan nilai tambah komoditas lokal, serta memperkuat ekonomi daerah.
Sementara itu, dari sektor kelautan dan perikanan, Desa Lori di wilayah pesisir Paser telah ditetapkan sebagai Kampung Nelayan Merah Putih (KNMP). Program ini bertujuan mentransformasi kawasan pesisir menjadi pusat ekonomi produktif, sekaligus memperkuat pasokan protein hewani dari laut.
Tentu, pemerintah daerah tidak hanya fokus pada tahap produksi saja, tapi juga memikirkan bagaimana agar seluruh komoditas yang dihasilkan dapat terdistribusi maksimal melalui penyediaan akses jalan yang baik.
“Kami juga memastikan hasil yang diproduksi dapat terdistribusi dengan cepat dan efisien. Karena itu, persoalan logistik menjadi prioritas,” ujarnya.
Ikhwan menegaskan, komitmen tersebut sejalan dengan program Asta Cita Presiden terkait dengan penguatan ekonomi kerakyatan. Oleh karena itu, pemerintah daerah berkomitmen untuk menyelesaikan persoalan infrastruktur jalan dan jembatan pada 2027.
“Ini adalah karpet merah agar seluruh komoditas yang dihasilkan Paser dapat terdistribusi ke pasar yang lebih luas dengan biaya logistik yang murah,” pungkasnya.
Pewarta: Nash
Editor : Muhammad Rafi’i


